Proyek Tambang

Tambang Bawah Tanah Rampung 100% di Tahun Ini, Freeport Memiliki Rencana Lain!

PT Freeport Indonesia, alias PTFI, sudah memproyeksikan sejak lama bahwa di tahun 2022 ini, tambang bawah tanah rampung dengan kapasitas penuh, alias 100%. Walaupun pandemi melanda Indonesia sejak 2020 lalu, perusahaannya sudah merencanakan tentang penyelesaian proyek tambang Freeport sejak awal. Berkaitan akan hal tersebut, Tony Wenas, selaku Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, angkat bicara. Ia mengatakan, bahwasanya pada Desember 2021 lalu, kapasitas tambahan bawah tanah sudah mencakup 90%. Sekedar informasi untuk anda, proyek pengembangan bawah tanah telah berlangsung sejak 2004 lalu. 

Pada saat itu, tambang bawah tanah dengan sengaja dibuat untuk mengantisipasi tambang cadangan yang lebih luas, yang mana jumlahnya kian menurun. Sejak bertahun-tahun lama nya, PT Freeport Indonesia memang sudah menutup open pit, atau tambang terbuka. Sehingga, seluruh wewenang secara menyeluruh bergantung pada produksi dari proyek tambang itu sendiri. 

“Tambah bawah tanah yang sudah develop sejak 2004 silam. Dan pada 2015, tambang sudah menyelesaikan proses hingga 90% dari kapasitas normal. Karena adanya pandemi, terpaksa proyek pengerjaan ditunda terlebih dahulu sampai kami mendapatkan instruksi lebih lanjut dari pemerintah. Dan diperkirakan, tahun depan (2022), kapasitas penuh tambang bawah tanah 100%,” ungkapnya, di acara Mining Zone bertajuk “Menggali Kontribusi Freeport untuk Papua dan Indonesia”, yang kami lansir dari sumber CNBCIndonesia, pada beberapa waktu lalu. Baca Juga The Largest Mines in Indonesia

Dengan pencakupan kapasitas penuh oleh PT Freeport Indonesia, ditambah operasi secara perdana dari tambang tersebut, diperkirakan perusahaan terkait dapat memproduksi emas hingga 1,5 juta ons. Tidak berhenti di situ saja, PT Freeport Indonesia juga bisa mendapatkan produksi tembaga dalam waktu satu tahun di 2022 hingga berjumlah 1,5 miliar pon. Dengan perkiraan akurat diatas, terbukti bahwa ada kenaikan jumlah produksi dibandingkan tahun 2021 lalu. 

Sekedar informasi untuk anda, pada 2021, Freeport telah melaporkan bahwa mereka sudah memproduksi tembaga 1,3 miliar pon dan produksi emas 1,3 juta ons. “Dan rencana yang akan datang, kami akan memproduksi tembaga hingga 1,5 miliar pon dan 1,5 juta on emas. Selama beberapa tahun ke depan, itulah rencana yang akan kami fokuskan. Dan di tahun depan juga tambang bawah tanah dapat menyelesaikan kapasitas penuh 100% hingga 2041 mendatang,” ujarnya. 

Tambang Freeport bawah tanah rampung ini menjadi faktor kuat atas pencapaian puncak produksi emas maupun tembaga hingga berkali-kali lipat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data yang dilaporkan oleh PT Freeport Indonesia, di tahun 2020 lalu, perusahaannya memproduksi tembaga hingga 809 juta pon dan 848 ribu ons emas. Mulai tahun 2022 ini, Freeport akan menetapkan bahwa perusahaan tersebut segera membagikan dividen dalam waktu dekat. Yang mana jumlah dividen tersebut, adalah US$ 1 miliar, atau setara dengan Rp 14 triliun per tahun. 

Bahkan, Freeport juga sudah menjanjikan bahwa perusahaan mereka akan membagikan dividen dengan jumlah flat yang sama dalam jangka waktu lima tahun ke depan. Dia turut mengatakan bahwa pembagian dividen dengan jumlah tersebut dilakukan dengan tujuan mencapai asumsi penambangan berdasarkan pola yang sedang berlaku, target volume produksi dapat tercapai,serta harga komoditas tambang tidak akan menurun sedikitpun. 

Dalam artian lain, Freeport berharap bahwa perindustrian pertambangan selalu jaya dan harga-harga setiap produksi tambang serta emas yang tetap tinggi serta tidak mudah turun hingga menyebabkan jumlah sangat anjlok. 

“Berkat pola penambangan yang saat ini sedang kami terapkan, kalau seluruh target bisa tercapai dengan mudah di harga tinggi ini, maka kami bisa membagikan dividen MIND US$ 1 miliar pada lima tahun ke depan dimulai dari tahun 2022. Nilai dividen setara dengan Rp 14-15 triliun, dan kami akan memberikannya per tahun dalam jangka waktu lima tahun berturut-turut,” ujarnya. Tony menambahkan, apabila kondisi penambangan bawah tanah masih prima dan kapasitas selalu penuh, maka PT Freeport Indonesia akan mampu memberikan kontribusi terhadap negara hingga US$ 45 miliar, atau setara dengan Rp 560 triliun, dengan syarat sesuai dengan masa Izin usaha Pertambangan Khusus di 2022-2041. Melansir dari sumber CNBCIndonesia, mengatakan bahwa Kabupaten dan Provinsi Papua diberikan benefit kepemilikan saham hingga 10% di PT Freeport Indonesia. Dengan begitu, ketika tambang Freeport bawah tanah rampung dan produksi sudah mulai berjalan, maka mereka akan mendapatkan dividen dengan hasil yang sesuai.